Tak Hanya Pantau, Rektor UPR Turun Langsung Padamkan Karhutla

Pendidikan18 Dilihat

PALANGKA RAYA – Rektor Universitas Palangka Raya (UPR) Prof. Dr. Ir. Salampak, M.S., IPU, turun langsung membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Kota Palangka Raya.

Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi lingkungan sekaligus dukungan kepada petugas yang berjibaku memadamkan api di tengah cuaca panas dan kondisi lahan yang kering.

Prof. Salampak mengatakan, dirinya mulai terlibat dalam pemantauan dan pemadaman karhutla sejak 26 Agustus 2026. Bahkan, setelah tiba di Palangka Raya melalui bandara, ia langsung menuju lokasi kebakaran untuk melihat kondisi sekaligus membantu proses pemadaman.

“Setibanya dari bandara pada 26 Agustus, saya langsung ikut mengawasi sekaligus membantu pemadaman api hingga malam sekitar pukul 22.00 WIB. Keterlibatan ini menjadi bagian dari kepedulian kami terhadap kondisi lingkungan dan keselamatan masyarakat yang terdampak karhutla,” ujarnya, Rabu (26/8/2026).

Dalam proses pemadaman, tim menyesuaikan metode dengan kondisi api serta karakteristik lahan yang terbakar. Salah satu teknologi yang digunakan yakni shabondama, berupa busa yang membantu membasahi sekaligus menutup permukaan lahan yang terbakar.

Menurut Salampak, penggunaan busa tersebut dapat membuat pemanfaatan air lebih efektif dan membantu mengendalikan api, termasuk mengurangi kemungkinan munculnya kembali titik api.

“Teknik pemadaman dengan menggunakan teknologi shabondama dilakukan untuk membantu meningkatkan efektivitas pemadaman. Busa yang dihasilkan dapat membantu membasahi dan menutup permukaan yang terbakar, sehingga api lebih mudah dikendalikan dan potensi penyalaan kembali dapat ditekan,” jelasnya.

Keterlibatan Salampak berlanjut pada Kamis (27/8/2026). Ia kembali berada di lokasi sejak sore hingga sekitar pukul 22.30 WIB bersama tim pemadam untuk menangani api yang masih membakar lahan.

Ia mengaku sempat memegang selang dan membantu memadamkan api selama sekitar satu jam.

“Selama berada di lapangan, lumayan ikut memadamkan api selama satu jam dengan memegang selang. Sekarang sedang istirahat karena kelelahan dan flu berat. Kondisi di lapangan memang membutuhkan tenaga dan konsentrasi karena api harus terus dikendalikan agar tidak meluas,” katanya.

Pengalaman tersebut, lanjut dia, menunjukkan bahwa penanganan karhutla bukan pekerjaan mudah. Api yang terlihat di permukaan harus benar-benar dipastikan padam karena panas yang tersisa di dalam lahan masih dapat memicu munculnya kembali titik api.

“Pemadaman karhutla membutuhkan kerja sama, ketelitian, dan ketahanan fisik. Api harus benar-benar dikendalikan, termasuk memperhatikan bagian-bagian lahan yang masih berpotensi menimbulkan titik api. Karena itu, upaya pemadaman harus dilakukan secara bersama-sama dan tidak hanya mengandalkan satu pihak,” tegasnya.

Salampak juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi karhutla, terutama ketika kondisi cuaca panas dan lahan dalam keadaan kering. Menurutnya, pencegahan menjadi langkah penting karena api dapat dengan cepat menjalar apabila tidak segera ditangani.

“Kita harus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Ketika kondisi lahan kering dan api mudah menyebar, kewaspadaan harus ditingkatkan. Masyarakat juga memiliki peran penting untuk mencegah munculnya sumber api dan segera melaporkan apabila melihat adanya kebakaran,” ujarnya.

Keterlibatan langsung Rektor UPR di lapangan menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap upaya bersama dalam menangani karhutla di Palangka Raya. Dengan sinergi petugas, pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat, risiko meluasnya kebakaran diharapkan dapat ditekan.(ch4/MK)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *