Pembangunan Daerah Harus Berpijak pada Nilai Budaya

DPRD Kalteng14 Dilihat

PALANGKA RAYA-Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi  Kalimantan Tengah, Arton S Dohong, menekankan pentingnya nilai spiritual dan budaya sebagai landasan utama dalam mendorong pembangunan daerah. “Nilai-nilai budaya serta spiritual merupakan fondasi strategis dalam pembangunan daerah,” kata Arton, di gedung dewan. Rabu (6/5/2026).

Lebih lanjut Politisi PDI-Perjuangan Kalimantan Tengah ini menyatakan, pembangunan tidak cukup hanya berfokus pada aspek fisik dan ekonomi semata. Lebih dari itu, penguatan moral, budaya, dan spiritual diperlukan. “Jadi, moral, budaya, dan spiritual masyarakat harus berjalan seiring agar hasil pembangunan lebih berkelanjutan,” ujarnya.

Para Anggota DPRD Kalteng berbincang santai, usai mengikuti rapat paripurna di gedung dewan setempat.
Para Anggota DPRD Kalteng berbincang santai, usai mengikuti rapat paripurna di gedung dewan setempat.

Terlepas dari itu wakil rakyat daerah pemilihan Kalimantan Tengah I Palangka Raya, Kabupaten Katingan dan Kabupaten Gunung Mas ini, mengapresiasi terjaganya kerukunan umat beragama di Kalteng hingga saat ini. “Kami sangat mengapresiasi terjaganya kerukunan umat beragama di Kalimantan Tengah yang sangat terjaga dengan baik hingga saat ini,”ucap Arton.

Menurutnya, kesadaran kolektif yang dilandasi nilai spiritual menjadi kunci terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis. Modal kuat inilah yang harus terus dijaga ditengah keberagaman masyarakat. “Oleh karenan itu, kesadaran kolektif yang berlandaskan spiritualitas akan menciptakan keharmonisan sosial masyarakat, sekaligus menjadi modal utama kemajuan Kalteng,”katanya.

Diketahui bahwa Kalimantan Tengah terkenal dengan filosofi ‘Huma Betang’ dimana ‘Huma Betang’ bukan cuma rumah adat, tapi cara hidup orang Dayak yang isinya nilai-nilai luhur.

Filosofi ‘Huma Betang’ yang jadi kebanggaan Kalimantan Tengah melingkupi semangat kebersamaan dan gotong royong.  Menjunjung tinggi toleransi dan perdamaian, ditengah keragaman perbedaa agama, beda sub-suku, tapi hidup rukun satu atap dengan mengedepankan aturan adat kuat dalam menyelesaikan masalah dengan musyawarah, bukan berantem dan ‘Belom Bahadat’ atau hidup beradat.(m3l/MK)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *