PALANGKA RAYA, MK – Prof Bhayu Rhama, S.T., M.B.A., Ph.D. resmi memegang tampuk kepemimpinan Universitas Palangka Raya (UPR) periode 2026-2030.
Usai dilantik sebagai Rektor UPR, Prof Bhayu langsung mengungkap agenda yang akan menjadi fokus awal kepemimpinannya. Dalam 100 hari pertama, ia memilih membenahi persoalan mendasar di lingkungan kampus sebelum melangkah pada program-program yang lebih besar.
Prof Bhayu dilantik dalam upacara pelantikan pimpinan perguruan tinggi negeri (PTN), Kepala LLDIKTI, pejabat fungsional, dan kepala sekolah di lingkungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Senin (5/10/2026).
Pengangkatan Prof Bhayu sebagai Rektor UPR tertuang dalam Keputusan Menteri Diktisaintek RI Nomor 220/M/KEP/2026 dan Nomor 29823/M/KPT.KP/2026.
Pelantikan tersebut disiarkan melalui kanal YouTube resmi Kemdiktisaintek.
Pulang ke Palangka Raya, Bawa Agenda Harmonisasi Kampus
Tak ingin berlama-lama, Prof Bhayu mengatakan akan segera kembali ke Palangka Raya untuk mulai menjalankan amanah sebagai Rektor UPR.
Langkah pertama yang akan dilakukan adalah membangun komunikasi dan merangkul seluruh elemen kampus. Ia menilai harmonisasi internal menjadi fondasi penting agar seluruh pihak dapat bergerak bersama untuk memajukan UPR.
“Tentu setelah pelantikan ini kita akan segera kembali ke Kota Palangka Raya untuk mengharmonisasikan dan merangkul semua pihak agar kita bisa berjalan menjadi satu demi UPR yang kita cintai ini supaya berdampak juga kepada masyarakat,” kata Bhayu.
100 Hari Pertama, Masalah Dasar Jadi Prioritas
Prof Bhayu menegaskan, 100 hari pertama kepemimpinannya tidak hanya akan diisi dengan penyusunan program besar. Persoalan dasar yang bersentuhan langsung dengan aktivitas akademik justru menjadi perhatian utama.
“100 hari pertama saya akan komitmen untuk menjalankan visi misi saya. Permasalahan dasar itu akan menjadi prioritas kita,” ujarnya.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah fasilitas penunjang kegiatan belajar mengajar.
Menurut Bhayu, persoalan seperti ketersediaan listrik dan pendingin ruangan tidak boleh dianggap sepele. Fasilitas tersebut berkaitan langsung dengan kenyamanan mahasiswa dan tenaga pengajar dalam menjalankan proses pembelajaran.
“Seperti ketersediaan listrik, pendingin ruangan. Jadi standar kelas belajar diharapkan dapat terpenuhi sehingga dapat belajar dengan nyaman. Itu adalah fondasi pertama bagi pendidikan kita,” tegasnya.
Benahi Fondasi, Baru Pacu UPR Lebih Jauh
Bhayu menegaskan pembenahan persoalan dasar menjadi pijakan awal untuk membangun UPR yang lebih baik.
Di sisi lain, harmonisasi internal juga akan terus didorong agar seluruh unsur di lingkungan universitas dapat bekerja dalam arah yang sama.
Target akhirnya bukan hanya memperbaiki fasilitas, tetapi juga meningkatkan kualitas UPR dan memperbesar kontribusinya bagi masyarakat Kalimantan Tengah.
Wakil Rektor: UPR Harus Naik Kelas
Harapan besar juga disampaikan Wakil Rektor Bidang Akademik UPR, Dr Natalina Asi.
Ia berharap kepemimpinan Prof Bhayu dapat melanjutkan berbagai capaian yang telah diraih UPR sekaligus membawa peningkatan kualitas perguruan tinggi tersebut.
“Kepemimpinan yang ada, semua yang dicapai itu bisa dilanjutkan ke arah yang lebih baik. UPR itu perlu ditingkatkan kualitasnya,” kata Natalina.
Tak hanya kualitas, Natalina juga berharap kepemimpinan baru mampu mendorong peningkatan grade UPR.
Menurutnya, target tersebut tidak bisa dicapai secara instan. Dibutuhkan proses serta kerja bersama seluruh sivitas akademika dan unsur terkait di lingkungan universitas.
“Saya berharap kepemimpinan yang ada ini bisa membantu menaikkan grade UPR. Semuanya tentu perlu proses yang harus dijalani,” pungkasnya.
Dengan resmi dilantiknya Prof Bhayu Rhama, babak baru kepemimpinan UPR periode 2026-2030 pun dimulai. Tantangan pertama sudah diletakkan: membenahi fondasi, merangkul seluruh elemen kampus, dan mendorong UPR bergerak menuju kualitas yang lebih tinggi.(ch4/MK)









